ARTIKEL MSDM






Polemik Penetapan Upah Minimum di Indonesia

Salah satu isu penting yang ada di dunia investasi Indonesia adalah polemik mengenai penetapan Upah Minimum bagi tenaga kerja. Hal ini akan sangat menarik untuk menjadi perhatian semua pihak-pihak terkait yang memiliki kepentingan di dalamnya. Tenaga kerja, para pengusaha pemerintah memiliki kepentingan yang berbeda satu sama lain terhadap Upah Mininum ini. Tenaga kerja menginginkan Upah Minimum yang dapat mencukupi kebutuhan hidup mereka. Para pengusaha menginginkan Upah Mininum yang tidak terlalu memberatkan kondisi keuangan perusahaan mereka. Sedangkan Pemerintah harus menjaga iklim investasi di negeri ini tetap kondusif dan isu Upah Mininum ini termasuk elemen yang sangat penting yang harus dijaga dan dikontrol pemerintah. Berkaitan dengan Upah Mininum maka akan sangat penting kita mendalami masalah kompensasi juga.
Kompensasi adalah seluruh imbalan yang diterima karyawan atas hasil kerja karyawan tersebut pada organisasi. Kompensasi bisa berupa fisik maupun non fisik dan harus dihitung dan diberikan kepada karyawan sesuai dengan pengorbanan yang telah diberikannya kepada organisasi / perusahaan tempat ia bekerja.
Salah satu unsur yang sangat menetukan keberhasilan organisasi adalah sumber daya manusia, di sisi lain juga sebagai makhluk yang mempunyai pikiran, perasaan, kebutuhan dan harapan-harapan tertentu. Hal ini sangat memerlukan perhatian tersendiri karena faktor-faktor tersebut akan mempengaruhi prestasi, dedikasi dan loyalitas serta kecintaan terhadap pekerjaan dan organisasinya. Dalam sebuah organisasi diperlukan sebuah sistem terintregasi dengan baik sehingga akan mampu menciptakan sumber daya manusia yang mampu bekerja secara maksimal dan mampu mengeluarkan segala potensi yang dimiliki setiap individu.
Kondisi seperti ini menciptakan sumber daya manusia sebagai aset yang harus ditingkatkan efisiensi dan produktivitasnya. Untuk mencapai hal tersebut, maka organisasi harus mampu menciptakan kondisi yang dapat mendorong dan memungkinkan karyawan untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan serta ketrampilan yang dimiliki secara optimal. Salah satu upaya yang dapat ditempuh organisasi untuk menciptakan kondisi tersebut adalah dengan memberikan kompensasi yang memuaskan dan sesuai dengan keinginan karyawan. Pemberian kompensasi dapat meningkatkan prestasi kerja, motivasi dan kepuasan kerja karyawan dan hal ini akan semakin mendukung tercapainya tujuan organisasi.
Urgensi kompensasi sebagai salah satu indikator kepuasan dalam bekerja sulit diukur, hal ini disebabkan pandangan-pandangan karyawan mengenai uang atau imbalan langsung nampaknya sangat subyektif dan barangkali merupakan sesuatu yang sangat khas dalam industri. Tetapi pada dasarnya adanya dugaan ketidakadilan dalam memberikan upah maupun gaji merupakan sumber ketidakpuasan karyawan terhadap kompensasi yang pada akhirnya bisa menimbulkan perselisihan dan semangat rendah dari karyawan itu sendiri. Adanya benturan kepentingan dari pihak karyawan dan pihak organisai (perusahaan) juga salah satu faktor yang menyebabkan pemberian kompensasi menjadi sangat subyektif, dilihat dari kepentingan masing-masing pihak.
Kompensasi penting bagi karyawan sebagai individu karena besarnya kompensasi mencerminkan ukuran nilai karya mereka di antara karyawan itu sendiri, keluarga dan masyarakat. Kemudian program kompensasi juga penting bagi organisasi, karena hal itu mencerminkan upaya organisasi untuk mempertahankan sumber daya manusia yang dimilikinya atau dengan kata lain, agar karyawan mempunyai loyalitas dan komitmen yang tinggi pada organisasi.
Berbagai hasil penelitian yang dilakukan oleh para ahli perilaku menunjukkan bahwa faktor utama ketidakpuasan kerja karyawan adalah kompensasi yang tidak sesuai dengan harapan karyawan. Disamping itu adanya ketidakpuasan karyawan terhadap kompensasi yang diterima dapat menimbulkan perilaku negatif karyawan terhadap organisasi, yaitu menurunnya komitmen karyawan terhadap organisasi. Secara langsung atau tidak maka hal ini akan sangat berdampak pada tingkat kinerja karayawan, tentunya hal ini sangat tidak diharapkan oleh sebuh organisasi.
Kondisi ini menuntut suatu organisasi untuk mengembangkan performanya, dan hal itu harus didukung pula oleh karyawan yang profesional dan memiliki loyalitas serta dedikasi yang tinggi. Untuk mencapai hal tersebut, maka pemberian kompensasi yang memuaskan dapat mengurangi timbulnya turnover dan absenteisme. Dengan meningkatkan komitmen karyawan pada organisasi dan melibatkan karyawan dalam kegiatan organisasi, maka hal ini akan dapat mengurangi adanya turnover dan absenteeisme.
Dampak lain dari ketidakpuasan karyawan terhadap kompensasi adalah dampak psikologis yang dialami oleh karyawan yang ingin pindah dari organisasi. Keinginan tersebut tentunya tidak mudah untuk diwujudkan mengingat berbagai kondisi yang tidak atau kurang memungkinkan bagi karyawan untuk pindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain, misalnya kondisi persaingan di pasar tenaga kerja yang semakin ketat, birokrasi serta aturan internal yang ada di dalam perusahaan itu sendiri. Akhirnya bentuk ketidakmampuan mereka untuk keluar tersebut diwujudkan dengan tidak peduli terhadap pekerjaan mereka serta tidak merasa bertanggung jawab terhadap kemajuan organisasi atau dengan kata lain, mempunyai komitmen yang rendah terhadap organisasi.
Hal ini tentu saja membawa dampak yang sangat tidak menguntungkan bagi perusahaan karena karyawan yang mempunyai komitmen yang rendah akan menghasilkan prestasi kerja dan produktivitas yang rendah pula. Kondisi karyawan yang seperti ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut karena dengan komitmen yang rendah, karyawan tidak bisa mencurahkan seluruh jiwa, perasaan dan waktu mereka untuk kemajuan organisasi yang pada akhirnya akan menyebabkan organisasi kehilangan daya saingnya. Oleh karena itu sikap karyawan atas kepuasan kerja dan komitmen pada organisasi telah menjadi kepentingan yang mendesak bagi ahli-ahli psikologis industri dan manajemen sumber daya manusia karena hal itu membawa dampak bagi perilaku karyawan pada organisasi.
Komitmen organisasi berkaitan dengan identifikasi dan loyallitas karyawan pada orgasnisasi dan tujuan-tujuannya. Kompensasi seringkali harus membuat organisasi harus introspeksi apalagi bila hal tersebut berakibat banyak karyawan yang mempunyai sikap tidak peduli lagi dengan masa depan organisasi serta tidak peduli lagi dengan lingkungan tempat kerjanya. Apabila hal tersebut dibiarkan terus berlanjut, tidak mustahil terjadi turnover yang tinggi sehingga organisasi harus mengeluarkan biaya yang tinggi untuk merekrut karyawan baru serta mentraining mereka. Salah satu cara untuk mengantisipasi hal tersebut adalah dengan pemberian kompensasi yang dapat memuaskan para karyawan, sehingga tercipta komitmen organisasi yang tinggi pada karyawan.
Berkaitan dengan masalah kompensasi maka akan sangat menarik bila kita membahas perihal Upah Minimum. Upah Minimum yang menjadi ukuran dasar minimal besaran upah atau gaji di perusahaan-perusahaan di Indonesia selalu menjadi polemik berkelanjutan. Hal ini disebabkan dalam penetapan besaran upah mnimum selalu terjadi pertetangan antara pihak penguasaha dan pihak tenaga kerja (yang diwakili oleh serikat kerja). Hampir di penghujung tahun hal ini selalu menjadi isu hangat dan ini terjadi di hampir seluruh kota di Indonesia.
Setiap tahun, penentuan Upah Minimum selalu menjadi bahasan utama di antara pihak-pihak yang berkepentingan, yaitu pengusaha, serikat pekerja, dan pemerintah. Sebagai contoh di tahun 2013 ini, kita semua dikejutkan dengan penetapan kenaikan upah yang sangat signifikan di sejumlah wilayah. Di wilayah Jakarta dan kota-kota sekitarnya, kenaikan upah minimum mencapai lebih dari 40%.Melihat dinamika yang terjadi beberapa tahun belakangan ini trend kenaikan upah minimum yang tinggi diperkirakan akan tetap berlangsung dengan ekspektasi yang muncul sekitar 30% dari serikat pekerja.Hal ini memunculkan dilema yang tinggi bagi perusahaan, di satu sisi compliance terhadap regulasi adalah sesuatu yang diwajibkan oleh pemerintah, namun di sisi yang lain adalah persoalan manajemen personnel cost yang dirasakan menjadi berat terutama untuk industri-industri tertentu yang sifatnya padat karya dan mempunyai skala bisnis kecil – menengah.
Sesuai dengan Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang dimaksud dengan Upah adalah hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pemberi kerja. Penentuan upah selain didasarkan atas perjanjian kerja dan kesepakatan antara kedua belah pihak, juga mengacu kepada peraturan perundang-undangan. Salah satu peraturan perundang-undangan terkait upah adalah mengenai Upah Minimum. Undang-undang Ketenagakerjaan mensyaratkan bahwa Pengusaha dilarang membayar upah lebih rendah dari Upah Minimum.
Salah satu kompenn penting dalam penetapan Upah Minimum adalah komponen Kutuhan Hidup Layak (KHL), di mana besaran Upah Minimum harus berada di atas kisaran KHL. Komponen Kebutuhan Hidup Layak digunakan sebagai dasar penentuan Upah Minimum, dimana dihitung berdasarkan kebutuhan hidup pekerja dalam memenuhi kebutuhan mendasar yang meliputi kebutuhan akan pangan 2100kkal perhari, perumahan, pakaian, pendidikan dan sebagainya.
Pada  awalnya penghitungan upah minimum dihitung didasarkan pada Kebutuhan Fisik Minimum (KFM), Kemudian terjadi perubahan penghitungan didasarkan kepada Kebutuhan Hidup Minimum (KHM). Perubahan itu disebabkan tidak sesuainya lagi penetapan upah berdasarkan kebutuhan fisik minimum, sehingga timbul perubahan yang disebut dengan KHM. Tapi, penetapan upah minumum berdasarkan KHM mendapat koreksi cukup besar dari pekerja yang beranggapan, terjadi implikasi pada rendahnya daya beli dan kesejahteraan masyarakat terutama pada pekerja tingkat level bawah. Dengan beberapa pendekatan dan penjelasan langsung terhadap pekerja, penetapan upah minimum berdasarkan KHM dapat berjalan dan diterima pihak pekerja dan pengusaha.
Perkembangan teknologi dan sosial ekonomi yang cukup pesat menimbulkan pemikiran, kebutuhan hidup pekerja bedasarkan kondisi "minimum" perlu diubah menjadi kebutuhan hidup layak. Kebutuhan hidup layak dapat meningkatkan produktivitas kerja dan produktivitas perusahaan yang pada akhirnya dapat meningkatkan produktivitas nasional. Dari gambaran itu, timbul permasalahan, sampai saat ini belum ada kriteria atau parameter yang digunakan sebagai penetapan kebutuhan hidup layak itu.Untuk itu maka perlu dilakukan penelitian untuk menyusun perangkat komponen kebutuhan hidup layak berikut jenis-jenis kebutuhan untuk setiap komponen.Komponen dan jenis kebutuhan hidup minimum yang bias dijadikan perangkat dalam penelitian kebutuhn hidup layak antara lain:

Dengan dasar yang terdapat dalam komponen KHM sebagi awal tujuan kebutuhan hidup layak, ternyata sebagian besar responden menyetujui jenis dan komponen yang terdapat dalam KHM. Hanya saja, perlu mendapat perubahan: kualitas dari barang yang diajukan dan kuantitas jumlah barang yang dibutuhkan perlu ditambah. Begitu juga pekerja, harus dapat menyisihkan hasil yang diterima paling tidak sebesar 20 persen sebagai tabungan.
Dalam uraian di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa kompensasi merupakan komponen yang sangat penting dalam sebuah organisasi atau perusahaan dalam kaitannnya dengan sumber daya manusia atau karayawan. Kompensasi menjadi faktor utama yang akan mempengaruhi kualitas dari kinerja karyawan . Komitmen dan kepuasan karyawan berbanding lurus dengan  yang mereka dapatkan dari pekerjaannya. Upah Minimum sendiri merupakan salah satu implementasi dari kompensasi yang menjadi pokok dan acuan bagi perusahaan dalam pemeberian kompensasi. Polemik yang terjadi dalam setiap penetapan besaran Upah Minimum disebabkan oleh adanya benturan kepentingan antara pengusaha dan tenaga kerja di mana masing-masing pihak mnginginkan Upah Minimum sesuai harapan masing-masing pihak. Maka sangat diperlukan pemerintah dalam menengahi kedua belah pihak dan perlu adanya parameter yang baku tentang komponen-komponen dalam penetapan Upah Minimum yang bisa diterima oleh pihak pengusaha dan tenaga kerja. Sehingga polemik seperti ini tidak terjadi secara terus menerus di tiap penghujung tahun.


http://pengertianpendidikan.com/pengertian-kompensasi  ( di akses pada tgl 30 Juni 2013 , jam 01.10 )


http://id.wikipedia.org/wiki/Upah_minimum ( di akses pada 30 Juni 2013, jam 08.35)



Komentar

qoonyeel dong mengatakan…
izin coppas ya gan.hehe.
thanks.