Selasa, 02 Juli 2013

Manajemen Sumber Daya Manusia





“INDONESIA, NEGARA KAYA DENGAN RAKYAT MISKIN”
Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan sumber daya alam. Dari Sabang sampai Merauke, dari darat sampai dasar laut, tersimpan harta yang begitu melimpah. Berada pada ring of fire akibat pertemuan empat lempeng benua sehingga bermunculan banyak gunung api aktif diikuti kesuburan tanahnya. Di pulau Sumatera dan Jawa terdapat tanah yang subur dan sangat optimal untuk kegiatan pertanian. Di tanah Kalimantan terdapat kandungan mineral yang sangat melimpah, dan merupakan salah satu tempat industri tambang. Hutan hujan tropis yang kaya akan biodiversitas menyelimuti sebagian besar daratan di Indonesia. Lautan luas yang memeluk seluruh kepulauan dan mengandung ikan-ikan sehat dan kaya akan protein dalam jumlah yang luar biasa melimpah. Betapa luar biasa kekayaan alam Indonesia.
Dipintu masuk utama bagian barat Indonesia yang sering disebut “Little Asia”, yaitu daerah Sumatera, disana terdapat beraneka ragam etnis yang masih kuat karakter aslinya hidup berdampingan. Otomatis, tawaran wisata budaya, kekayaan alam, hingga kuliner yang menggambarkan kultur-kultur mereka pun tersedia. Negeri tercinta kita ini penuh dengan kekayaan alam, yang mana kekayaan alam itu berbagai macam variasinya, tambang batu bara, emas, gas, dan lain sebagainya. Sehingga banyak orang Asing yang ingin menghabiskan hidupnya di nusantara ini. Portugis, Inggris, Belanda, dan Jepang pernah menjajah Indonesia, tujuannya hanya satu yaitu ingin menguasai kekayaan alam yang tersimpan di alam Indonesia. Pengakuan Negara lain terhadap kekayaan alam Indonesia itu menjadi bukti bahwa Indonesia memang kaya dari segi Sumber Daya Alam (SDA), namun sayangnya Sumber Daya Manusia (SDM) masyarakat Indonesia kurang memadai.
Bahkan pernah diisukan bahwa di balik alam Indonesia ini sungguh banyak bahan yang belum dapat dimanfaatkan oleh bangsa sendiri, itu karena factor SDM yang kurang memadai. Pemerintahan Jepang mengatakan bahwa seandainya alam Indonesia mau ditukar dengan Negara Jepang, mereka akan berangkat denga telanjang dan tidak akan membawa apapun dari negerinya. Mereka akan memulai hidup baru di Indonesia dengan kekayaan alamnya yang sangat melimpah.
Indonesia merupakan salah satu bukti bahwa alam mampu memenuhi kebutuhan hidup manusia. Tanah yang subur, ikan – ikan yang sehat, air yang bersih, udara yang segar, serta mineral – mineral yang berharga ada di bumi pertiwi. Indonesia sudah seharusnya kaya dan sejahtera. Kemiskinan dan kelaparan tidak sepantasnya muncul di tanah air ini. Krisis air bersih dan pangan bukanlah hal yang patut dikhawatirkan. Itulah yang seharusnya terjadi.
Namun kenyataannya, terlalu sederhana jika mengasumsikan negara yang kaya akan sumber daya alamnya adalah negara yang kaya secara harfiah dan mampu menyejahterakan masyarakatnya. Terlepas dari keberlimpahan sumber daya yang ada, Indonesia adalah negara yang miskin. Masih ada saudara – saudara kita yang kelaparan dan sulit memperoleh air bersih. Masih ada saudara – saudara kita yang tidak memperoleh kesejahteraan seperti yang tertulis dalam Pembukaan UUD 1945. Kesenjangan masih terasa di tanah tumpah darah kita ini. Berganti pemimpin tidak pula mengubah keadaan yang ada, tetapi justru melanjutkannya.
Terlalu banyak nasi yang menjadi smpah, sementara masih banyak orang yang miskin dan kelaparan. Terlalu banyak air yang terbuang sia – sia, sementara di tempat lain betapa sulitnya menemukan air. Terlalu banyak uang yang diberikan kepada para anggota DPR, sementara masih banyak rakyat Indonesia yang berada dibawah garis kemiskinan. Terlalu banyak anggaran yang direncanakan untuk pembangunan gedung DPR, sementara di beberapa tempat fasilitas pendidikan masih sangat menyedihkan. Terlalu banyak sumber daya Indonesia yang menghidupi orang asing, sementara tuan rumah hidupnya masih terlilit.
Ada contoh kasus seperti Proyek Exxon di Aceh dan Freeport di Papua, yang menjadi contoh betapa rakyat sekitarnya masih berada dalam kemiskinan. Padahal kekayaan tambangnya terus dikuras habis-habisan. Namun rakyat lebih banyak diam, karena bingung tak tahu harus berbuat apa. Mereka lebih banyak bersabar dan sering menyaksikan kemewahan hidup orang asing yang mengambil minyak dan kekayaan di wilayahnya. Mereka hanya lebih banyak bersikap sabar. Namun, jika kesabaran mulai habis, maka yang muncul adalah kejengkelan yang hal ini mudah menyulut gejolak sosial. Hal seperti inilah yang menunjukan bahwa lemahnya sdm di Indonesia yang membuat rakyat menjadi miskin di negaranya sendiri, padahal mereka tahu betapa kayanya alam sekitar mereka.
Kita selaku warga Negara Indonesia patut merasa kecewa, karena sebagian besar dari kekayaan alam negeri ini telah dieksploitasi oleh pihak swasta dan kebanyakan dari pihak asing secara besar-besaran, sehingga kita tidak dapat menikmati hasil yang secara maksimal dari kekayaan alam itu. Ini merupakan suatu tindakan kezholiman yang dilakukan pemerintah terhadap kita selaku rakyatnya. Betapa tidak, kalau kita lihat peraturan UUD 1945 pasal 33 ayat 3 yang berbunyi “bumi, air dan kekayaan alam lainnya dikelola oleh negara untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat” buktinya malah dialihkan kepada segelintir orang, yang artinya pemerintah telah menyelewengkan bunyi dari UUD tersebut. Bukti nyatanya paling tidak sbb:
  1. Di Bumi Papua, kekayaan tambang emasnya setiap tahun menghasilkan uang sebesar Rp 40 triliun. Kekayaan tersebut 90%-nya dinikmati perusahaan asing (PT Freeport). Mayoritas rakyat Papua sendiri hingga kini masih susah dan miskin. Pemerintah Indonesia pun hanya mendapatkan royalti dan pajak yang tak seberapa dari penghasilan PT Freeport yang luar biasa itu.
  2. Di Kaltim, batubara diproduksi sebanyak 52 juta meter kubik pertahun; emas 16.8 ton pertahun; perak 14 ton pertahun; gas alam 1.650 miliar meter kubik pertahun (2005); minyak bumi 79.7 juta barel pertahun, dengan sisa cadangan masih sekitar 1.3 miliar barel. Namun, masih banyak penduduk Kaltim tergolong miskin.
  3. Di Aceh, cadangan gasnya mencapai 17.1 triliun kaki kubik. Hingga tahun 2002, sudah 70 persen cadangan gas di wilayah ini dikuras oleh PT Arun LNG dengan operator PT Exxon Mobile Oil yang sudah berdiri sejak 1978. Namun, Aceh menempati urutan ke-4 sebagai daerah termiskin di Indonesia. Jumlah penduduk miskinnya masih cukup besar.
Kondisi ini terjadi karena Indonesia dan dunia umumnya menerapkan sistem ekonomi kapitalis. Dalam sistem ekonomi kapitalis yang paling menonjol justru kepemilikan individu. Bahkan kepemilikan negara dapat diubah menjadi kepemilikan individu dengan cara privatisasi. Inilah yang menjadi sebab utama mengapa peraturan tentang SDA dan energi semua mengarah pada privatisasi yang berakibat pada penguasaan SDA dan energi oleh swasta bahkan pihak asing.

Jika semua kepemilikan umum dikuasai dan dikelola oleh negara, maka akan tersedia dana yang mencukupi untuk memenuhi seluruh kebutuhan rakyat. Sebagai gambaran, di sektor pertambangan dan energi akan didapat penerimaan sekitar Rp 691 Triliun pertahun. Di sektor kelautan dengan potensi sekitar US$ 82 Miliar atau Rp 738 Triliun pertahun akan diperoleh minimal sekitar Rp 73 Triliun. Yang mencengankan adalah sektor kehutanan. Luas hutan kita adalah 100 juta hektar, dan dengan pengelolaan secara lestari diperkirakan akan diperoleh penerimaan sekitar Rp 2000 Triliun pertahun. Fantastis. Ini baru dari kayunya, belum dari potensi kekayaan biologi lainnya.

Dengan ketersediaan dana tersebut maka dapat dilakukan:
  1. penyediaan infrastrutur seperti jalan, jembatan, pelabuhan, pasar dan sarana lainnya yang dapat menggerakan roda perekonomian.
  2. pemberian gaji dan tunjangan yang layak dan mencukupi bagi pejabat dan pegawai negara. Hal ini akan dapat mencegah korupsi dan kejahatan ekonomi lainnya karena kebutuhan mereka sudah terpenuhi.
  3. mendanai pembangunan tanpa harus berhutang.
  4. pelayanan yang murah bahkan gratis atas kebutuhan jasa pokok rakyat seperti pendidikan, kesehatan, transportasi.
  5. Kelima, karena kebutuhan pokok rakyat sudah terpenuhi, maka sebagian besar kekayaan yang mereka miliki dapat digunakan untuk kepentingan mereka yang lain serta meningkatkan kesejahteraan mereka. Akibatnya, kesejahteraan rakyat akan meningkat pesat.
Di bidang akademik, Indonesia yang dihuni sekitar 250 juta jiwa hanya memiliki prestasi gelar PhD sekitar 7.000 orang. Bila dibandingkan dengan Filipina yang jumlah populasi penduduknya sekitar 18 juta jiwa. Indonesia tertinggal jauh. Dunia pendidikan sangat menunjang kualitas SDM, dengan mendapatkan pendidikan sebaik-baiknya masyarakat Indonesia mempunyai peluang lebih untuk memperbaiki Sumber Daya Manusianya. Tetapi sepertinya langkah untuk mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya dan berkualitas dapat terhenti, sekolah dan belajar bukan lagi menjadi kegiatan anak-anak Indonesia saat ini . waktu mereka telah habis untuk mencari uang demi membiayai kehidupan mereka yang “seharusnya” menjadi tanggung jawab dari para orang tua. Mahalnya biaya sekolah dan ketidakmampuan para orang tua untuk membiayai anaknya bersekolah adalah 1 dari kesekian faktor yang mempengaruhi anak-anak putus sekolah.
Itulah yang menjadi perbincangan saat ini, bagaimana kita dapat meningkatkan SDM kita apabila untuk ber-SEKOLAH saja susah,apa yang sebenarnya dilihat oleh para pejabat pemerintah kita,bukankah hal-hal seperti diatas hanya dapat menambah jumlah “warga miskin” dengan Lemah SDM yang membuat Negara kaya dapat menjadi negara miskin di dunia, lemahnya SDM yang mengakibatkan Indonesia dikuasai oleh pihak asing. Sebaiknya kualitas SDA yang baik dapat di ikuti dengan SDM yang baik pula. Kita harus mengubah kenyataan ini, jadikan SDM sebagai konsesus bersama untuk prioritas pembangunan. Sehingga INDONESIA tidak lagi menjadi “NEGARA KAYA DENGAN RAKYAT MISKIN”

Tidak ada komentar: